The Orange Network

Archive for the ‘GoodReads’ Category

Saat ini saya sedang membaca sebuah buku yang sangat bagus sekali, buku itu menurut saya setara bagusnya dengan The Success Principles*-nya Jack Canfield.*ada versi bahasa Indonesianya. Bukunya tidak setebal buku The Success Principles itu dan memang isinya juga lebih “ringan”, karena setiap pointnya hanya terdiri dari maximal 3 halaman yang memang sesuai untuk orang seperti saya*. *saya tidak bisa membaca buku yang “berat” dan terlalu tebal, kecuali si penulis mempunyai gaya tulisan yang asik. Meski demikian buku tersebut sungguh-sungguh membukakan pikiran saya kembali dan mudah-mudahan membuat saya menjadi lebih baik dan anda tentunya.

Kenapa saya tidak menyebutkan saja judul buku yang sedang saya baca sekarang?…  karena… saya merasa bersalah ketika harus membicarakannya… apalagi menuliskannya di blog untuk sharing kepada dunia… bukankah sharing itu hal bagus*?… *ya saya setuju dengan hal itu, setidaknya sampai kemarin ketika saya belum membaca buku itu… meski pada akhirnya saya tetap menganggap sharing adalah hal bagus, tapi buku itu mengganjal pikiran saya sebentar…

Bagaimana tidak ketika point pertama buku itu adalah RAHASIAKAN!…  bukan tanpa sebab tentunya si pengarang buku itu meminta pembacanya untuk merahasiakan apa yang akan didapat dengan membaca buku itu* *saya rasa bukan juga karena si pengarang sedang menciptakan trik buzz viral marketing, karena jelas akan merugikan penjualan buku itu sendiri jika seluruh pembaca benar-benar merahasiakannya.

Kenapa dianjurkan merahasiakan sesuatu yang baik?… pengarang mengatakan bahwa tidak ada orang yang suka pada orang yang sok pintar… biarkan yang lain tahu dengan sendirinya, karena tidak ada orang yang suka diceramahi, meski kelihatannya hal tersebut tidaklah adil. Analogi yang bagus dari pengarang adalah sama seperti ketika kita memberitahukan kepada teman kita atau orang lain untuk berhenti merokok, teman kita ketika dia belum siap untuk berhenti merokok mungkin saja akan mengganggap kita sok alim/si sombong.  Mereka akan sadar dengan sendirinya ketika kita “bersinar” atau melihat kita sendiri memang jauh lebih “sehat” dengan tidak merokok. good analogy right?!

Jadi terus terang pada awalnya saya merasa malu, mungkin anda dan blogger lain juga akan merasakan hal yang sama ketika kita menganggap sharing adalah hal baik… Lalu apakah si pengarang itu bicara bullshit?… tentu tidak, mungkin saja kehidupan dia lebih baik dari saya dengan prinsip “rahasia” dia, jadi pastinya dia tidak bicara “kosong”…

Kemudian saya berpikir, benarkah begitu?… iya dan tidak menurut saya… iya buat dia, tidak buat saya… saya coba masuk ke analogi dia dan memang hal ini yang saya lakukan terhadap teman2 saya… begini yang terjadi … ketika teman saya merokok, saya tidak peduli, ketika dia terbatuk-batuk dan sakit saya peduli dengan menasehatinya untuk mengurangi atau setidaknya berhenti sejenak, namun kalau dia tidak mengikuti saran saya, saya tidak mempedulikannya*…  *tentunya saya akan masih berteman dengan dia…

Ketika teman baik saya merokok, saya peduli, saya akan menasehatinya beberapa kali secara random ketika dia akan merokok… tetapi jika dia tidak mengikuti saran saya, saya akan tidak peduli… Ketika pasangan saya merokok, saya sangat peduli, saya akan melarangnya habis-habisan dengan berbagai cara, dari mulai beralasan tidak mau merasakan seperti mencium “asbak” ketika berciuman, sampai mengatakan akan meninggalkannya kalau perlu*… *lebih baik saya memastikan dan melihatnya sehat ketika bersama saya,  atau tidak melihatnya sama sekali ketika dia sakit…

Jadi poin saya adalah ketika saya melakukan sharing baik disini atau sehari-hari, hal itu didasarkan atas kepedulian saya terhadap keluarga, pasangan, teman baik, teman atau anda. Saya dan anda sama-sama mengerti bahwa tidak ada untungnya sama sekali buat saya dengan melakukan hal tersebut, tetapi ketika suatu saat nanti anda merasakan manfaatnya terlebih ketika saya mengetahuinya, saya akan sangat bahagia dan beruntung bisa berbagi dengan anda*…*Seperti ketika saya membaca email ucapan terima kasih dari para pembaca blog saya yang mengatakan blog saya sedikit banyak membantu menyelesaikan permasalahannya atau sekedar berbagi kisah dan merekalah yang menentukan dan menjalani sendiri kehidupannya…

Jadi sekarang saya akan merahasiakan dan berbagi sekaligus sesuai dengan porsi, keadaan dan keinginan saya sendiri… Terima kasih dan selamat malam!

ps: judul bukunya adalah The Rules of Life : Richard Templar sebaiknya anda membacanya sendiri*. *I break the first rule!

The Rules of Life

The Rules of Life

Advertisements

Anda, saya pasti pernah marah… sewaktu kita kecil kita marah biasanya dengan menangis dan meraung-raung sejadi-jadinya karena ngga tahu rasa malu, waktu remaja kita marah juga tanpa pikir panjang dan sesukanya karena belum mengerti bahwa emosi berlebihan tidak baik, kalau sekarang kita marah sebaiknya bagaimana?

Tentu setiap orang berbeda-beda, ada yang memang “kelihatan” ketika marah dari tindakan dan perkataannya, ada juga yang “menahan” agar orang lain tidak melihat dia sedang marah, atau ada juga yang orang lain tahu dia marah tetapi terlihat tidak seperti sedang marah dan masih ada bentuk ekspresi marah lainnya. Ekspresi marah seseorang juga bisa berubah, bisa menjadi lebih baik, bisa juga menjadi lebih buruk, karena keadaan yang berbeda-beda seperti umur, kedewasaan, masalah, dsb.

Percaya atau tidak, kemarahan kita bisa mendatangkan respon yang berbeda-beda bagi orang lain, maksudnya orang akan bisa berpikiran bahwa kita seperti apa setelah melihat kita marah. Meski tidak 100%, tetapi biasanya cukup besar pengaruhnya. Misalnya mana yang lebih anda sukai bos yang kalau marah mengeluarkan kata2 kasar, melempar barang, sampai main tangan, dan terus mengungkit2 masalah lama atau bos yang mengatakan dengan jelas alasan dia marah, dan sesudah masalahnya selesai dia seperti biasa lagi?

Jadi ketika kita akan / sedang marah (kalau bisa sih jangan marah, karena biasanya hanya buang2 energy dan waktu, kadang materi kalau marahnya sampai banting2 barang) kita sebaiknya :

  • Tetap tenang, jangan melakukan apa-apa terlebih dahulu, termasuk bicara, lihat keadaan sekeliling, dan tarik napas dalam2. Jika anda bisa tidak perlu marah atau easy going, itu lebih baik. Tetapi perlu diingat marah memang tidak diperlukan tetapi bersikap tegas itu diperlukan.
  • Konsentrasikan pikiran ke inti masalah dan penyelesaiannya, bukan hal lain. Terkadang pertengkaran menjadi tidak jelas masalah utamanya karena lupa penyebabnya.
  • Katakan dengan jelas apa yang anda rasakan, apa yang anda inginkan, bagaimana solusinya, dsb. sambil tetap tenang, dengarkan pendapat orang lain juga.
  • Jika lawan bicara anda mengundang emosi, tenangkanlah dia, jika tidak bisa, biarkan dia berbicara apa saja, anda cukup mendengarkan, jika sudah selesai, tanyakanlah apa sudah selesai? jika sudah giliran anda berbicara. Jika anda dan lawan anda sama-sama berbicara, lalu siapa yang mendengar? dan apa gunanya anda berbicara?
  •  Jika masalah sudah terselesaikan, lupakanlah segera emosi dan bertindaklah seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa2.
  • Jika memang masalah tidak bisa terselesaikan saat itu juga, mungkin anda membutuhkan penengah yang bisa di percaya dan berada di pihak netral.

Saya ada tips tersendiri supaya emosi tidak meledak-ledak:

  • Mengeluarkan emosi tanpa tertuju pada object, misalnya jika saya melihat sesuatu yang tidak beres, saya biasanya berkata sendiri “Holycrap…” atau “ow sh*t” atau “D*mn” dan sebagainya tanpa mengarah pada siapa-siapa dan sambil lalu atau tertawa akhirnya. (teman main dan dikantor sudah hapal kebiasaan saya itu…)
  • Jangan memusingkan hal-hal kecil atau terlalu sensitif, latihlah sense of humour anda, menjadi cuek juga berguna.
  • Jika memang anda perlu marah, marahlah dengan profesional, tidak perlu menggunakan kata-kata kasar, cukup dengan tegas dan jelas apa yang menyebabkan anda marah dan harus bagaimana sebaiknya.
  • Jika lawan bicara anda masih memancing emosi anda, anda bisa mengatakan anda akan meninggalkannya karena tidak ada penyelesaiannya.
  • Lupakan segera hal-hal yang membuat anda emosi.

Memang tidak mudah marah dengan baik / profesional, kita harus bisa mengendalikan emosi kita karena emosi yang berlebihan akan membawa sesuatu yang tidak baik cepat atau lambat.


OrangeCategory

OrangePhotos