The Orange Network

Online Advertising, Need or Not?

Posted on: July 25, 2007

Ada beberapa client/agency yang bertanya kepada saya tentang apakah mereka perlu beriklan di internet? mereka bertanya kepada saya yang memang pekerjaannya adalah jualan iklan di media non traditional salah satunya internet… jadi mungkin anda sudah bisa menebak jawabannya?… hahaha…

Online Advertising

Biasanya jika saya belum mengetahui brands apa yang dibahas disini, saya akan bertanya terlebih dahulu, pertanyaannya seputar brands apakah yang ingin beriklan di internet, target audiencenya seperti apa, media apa saja yang sudah pernah di coba, bagaimana hasilnya, apakah brand tersebut brand baru atau brand lama yang ingin di re-branding, dsb. Seperti briefing product, karena saya memang memerlukan informasi seperti itu baru bisa membantu menjelaskan lebih lanjut.

Contoh paling gampang adalah misalnya produknya adalah GARAM DAPUR! saya akan dengan segera menjawab tidak perlu, jika produknya adalah MOBILE PHONES, saya akan menjawab perlu! (Dalam menjawab hal tersebut saya mengacu pada keadaan sekarang dimana saya menangani secara exclusive & official network seperti MSN Portal, Windows Live Hotmail, Windows Live Messenger, Friendster, SCTV.co.id, Liputan6.com, LiputanBola.com) Jika saya mempunyai network misalnya komunitas ibu2 memasak di internet, mungkin produk garam dapur tersebut akan saya rekomendasikan beriklan disana. Jadi apa yang hal utama yang paling menentukan apakah suatu brand perlu atau tidak beriklan di media online? menurut saya target marketnya.

Kita bisa melihat contoh campaign di internet yang menurut saya pribadi mereka tahu apa yang harus dilakukan di media internet yaitu Sony dengan campaign Now I Feel-nya, lalu Samsung dengan K3 Uberme-nya, sebenarnya masih banyak contoh lainnya, tetapi saya lupa mencatat url2nya, intinya adalah ada perbedaan antara beriklan di media traditional dengan media non traditional seperti internet, perbedaannya terletak pada kita bisa menciptakan “two way communication” atau “komunikasi dua arah“, maksudnya adalah komunikasi antara customer dengan brands secara lebih interaktif.

Interaktif disini misalnya kita bisa memanfaatkan fungsi web 2.0 secara lebih dalam, seperti misalnya jika membuat iklan untuk digital camera, kita bisa membuat kontes kecil seperti kontes foto, dimana user internet bisa mengikuti kontes tersebut dengan mengirimkan hasil fotonya langsung dengan meng-upload, kemudian dia bisa memberikan cerita/story tentang tema foto tersebut, dan bisa memberi tahu teman-temannya tentang kontes tersebut, lalu user lain bisa memberikan komentar dan juga rating secara langsung untuk memilih siapa foto terbaik misalnya.

Sayangnya beberapa client/agency entah itu lupa / tidak tahu harus bagaimana beriklan di media internet yang maksimal, mereka memasang iklan di media internet namun seperti memasang iklan di media print ad, misalnya hanya ada gambar 1 lembar dengan info produk dan lebih parahnya gambar tersebut hasil scan dari iklan printnya. (sangat sering ditemukan di website lokal)

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah Network mana yang paling sesuai untuk brand anda, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

  • Ingatlah bahwa tidak semua produk cocok di satu website saja, saya berani menjamin tidak ada satu website yang bisa cocok untuk semua jenis produk yang ada dipasaran atau sebaliknya tidak semua produk cocok untuk beriklan di media internet. (termasuk Google / website search engine lainnya?)
  • Selalu perhatikan target audience dari network tersebut secara detail, seperti demographic age, gender, household income, education, internet behavior, lifestyle, dsb, jangan ragu untuk meminta data2 yang diperlukan seperti misalnya case studies, dsb.
  • Pilih media yang tidak “terlalu” banyak spot iklannya dalam satu halaman, karena rata-rata CTR / Click Through Rate untuk media dengan spot iklan 1 saja di halaman hanya berkisar 0,05 -1% dan itu sudah termasuk standar. (bisa dibayangkan jika 1 halaman di”jejali” lebih dari 10 iklan?)
  • Pilih media yang mampu menggunakan teknologi rich media karena user sekarang sudah mulai jenuh dengan iklan banner biasa. (Rich media adalah iklan yang tidah hanya sekedar banner animasi biasa, tetapi memaksimalkan teknologi yang ada seperti multimedia, bahkan gathered database customer atau game didalam iklannya)
  • Pilih network yang terjamin integritasnya, dalam arti profesional dan terjamin untuk hasil report campaignnya tidak bisa di manipulasi karena di pegang oleh pihak lain / pihak ketiga yang independent dan terkenal juga integritasnya.
  • Selalu lakukan evaluasi dan analysis setelah satu campaign berlangsung dan kelihatan reportnya, apakah campaign tersebut berhasil atau tidak? jika berhasil mana yang perlu di maksimalkan? jika tidak mana yang salah? dan apa yang harus dilakukan untuk lain kali?
  • Pilih media yang salesnya bisa dan mau memberikan konsultasi selengkap-lengkapnya, bahkan bisa memberikan solusi, contoh dan ide-ide untuk online campaign anda. (seperti saya?…)

Jika ada pertanyaan lebih lanjut anda bisa menghubungi saya di andychen14@gmail.com apalagi jika anda mau memasang iklan di salah satu media network diatas🙂 (maaf saya tidak bisa memberikan email kantor saya disini, karena mencegah diserang spam oleh bot) Selamat mencoba media non traditional!

8 Responses to "Online Advertising, Need or Not?"

…..Pilih media yang salesnya bisa dan mau memberikan konsultasi selengkap-lengkapnya, bahkan bisa memberikan solusi, contoh dan ide-ide untuk online campaign anda….

Ini yang paling tepat, bagaimanapun pembeli akan cerewet dan senang dilayani, dan ingin tahu detail spesifikasi suatu produk.

[…] Salah satu tulisan yang mungkin bisa menambah informasi tentang web campaign, bisa baca ini: Online Advertising. […]

Menanggapi edratna, hampir semua sales pastinya akan melakukan hal tersebut.

“Pembeli adalah raja” dan saya selalu berusaha implementasikan hal tersebut di saat marketing process.

Tapi sebagai marketing ada langkah-langkah yang tidak bisa saya abaikan gitu aja (Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun yang telah saya lakukan, bukan cuma teori saja).

Contohnya:

Saya tidak bisa “Konsultasi selengkap-lengkapnya, bahkan bisa memberikan solusi, contoh dan ide-ide untuk online campaign anda …” saat baru akan membuka hubungan (Main tembak langsung!).

Bayangkan, saya kirim email pertama ke sang boss besar yang isinya “Konsultasi selengkap-lengkapnya, bahkan bisa memberikan solusi, contoh dan ide-ide untuk online campaign anda …” ??? … … … berdasarkan pengalaman, email tersebut hanya akan diforward ke bawahannya dan di benak sang boss pasti muncul anggapan “Smart ass!”.

Jangan lupa, “First impression is the key”

Pertama-tama saya akan mengirimkan ilustrasi maupun email lobi yang isinya ringan, mudah dimengerti dan dipahami (Tata bahasanya telah diatur dan disesuaikan sedemikian rupa dan saya tidak akan memborbardir prospek saya dengan isi yang panjang lebar seperti di atas).

O iya, Email lobi yang saya kirimkan untuk orang bisnis tak akan sama dengan email untuk orang teknik, seniman, dsb … pasti akan ada pengurangan, penambahan dan modifikasi tersendiri.

Saya akan senang hati “Konsultasi selengkap-lengkapnya, bahkan bisa memberikan solusi, contoh dan ide-ide untuk online campaign anda …” setelah saya mendapat respon positif dari prospek.

Berdasarkan pengalaman, mereka minta untuk presentasi langsung (Sesuai dengan keinginan saya), meskipun tetap ada yang minta penjelasan via email dan telpon terlebih dahulu, tapi prospek yang serius ujung-ujungnya akan meminta bertemu untuk presentasi langsung.

… btw, buset kepanjangan ah🙂

Saya paham dan mengerti maksud dan arah comment edratna yang sebenarnya melalui posting ini (Kebetulan saya baca), tapi dalam marketing saya tidak setuju dengan cara tembak langsung!!!

@Anom… saya tidak tahu kenapa commentar anda dianggap spam oleh akismet wordpress sebelumnya, jadi telat nongol…

Betul Anom, untuk tulisan “Pilih media yang salesnya bisa dan mau memberikan konsultasi selengkap-lengkapnya, bahkan bisa memberikan solusi, contoh dan ide-ide untuk online campaign anda. ” tentunya dalam kondisi demanding dari client yang dianggap serius. Meski sebenarnya saya akan mengganggap semua client sama potentialnya, tetapi kita bisa melakukan prioritas, dan tahap ini tentunya setelah melewati berbagai tahap sebelumnya seperti briefing product, dsb.🙂

[…] Tidak semua client itu “buta”, secara logika dan kasat mata, dan juga sudah pernah saya bahas disini tentang pemilihan network dengan spot iklan yang sedikit akan lebih mendukung hasil campaign yang ba… […]

“Selalu lakukan evaluasi dan analysis setelah satu campaign berlangsung dan kelihatan reportnya, apakah campaign tersebut berhasil atau tidak?”

bagaimana caranya mengetahui suatu campaign yang kita lakukan melalui internet berhasil atau engga?..thanxx^^

@Nanzzz…

Biasanya client/ agency setelah melakukan campaign akan melakukan perhitungan ROI (Return of Investment) contoh simplenya jika menggunakan standard banner maka yang di hitung adalah besarnya biaya investasi / jumlah pengunjung yang mengklik banner tersebut. Lalu bisa dibandingkan dengan media lain, atau dilihat pada masa2 tersebut terjadi peningkatan dalam hal penjualan atau tidak.

Contoh yang paling gampang jika sedang melakukan promo , apakah banyak orang yang tahu dan memanfaatkan promo tersebut atau tidak pada masa2 campaign dan pasca campaign berlangsung.

Masih banyak hal lain juga yang bisa dibahas, coba mampir ke blog saya yang satunya di imid.wordpress.com

ps : sayangnya saya sedang overload dalam beberapa bulan ini, jadi agak jarang update blog.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

OrangeCategory

OrangePhotos

DSC_5739

DSC_5726

DSC_5716

More Photos
%d bloggers like this: